Malam itu terlarut dengan sempurna, seraya malam itu lebih indah dari biasanya, malam itu laksana milikku dengan segala isinya memanjakan batinku yang sengsara lebih sengsara dari apa yang dirasa Sidharta Gautama sebelum menemukan aufklarungnya. Batinku rasanya tercabik-cabik saat semua mengatakan itu, saat orang paling aku taksirpun mengataiku, ya mereka dengan gembiranya mengataiku, menjulukiku sebagai Ucok, tak ada yang aneh sekilas dengan nama itu, tapi saat nama itu ditelanjangi kedalam bentuk keterangan yang lebih panjang, ia bernama Umar Jancok, coba, jiwa mana yang tak sengsara melihat dirinya selalu dipisuhi dengan Jancok, enyalah Sujiwo Tejo yang menganggap kata-kata jancok sebagai kata-kata mulia, Ia tak pernah merasakan betapa kata itu sering dipakai untuk mengumpat kekesalan terhadap orang, orang mana yang tak tersiksa namanya selalu diembel-embeli kata jancok, apa mereka tak mengerti arti kata Umar itu, betapa banyak orang hebat di dunia ini yang menyandang kata Umar itu sendiri kecuali nama Umar di desaku yang terkenal sebagai lelaki pelo (pengucapan sesuai kata pensil) yang artinya lelaki yang burungnya tak bisa berdiri, itupun tak bisa dilegitimasi kalo orang yang pelo itu buruk, apa hakmu memisuhi orang? hanya Tuhan yang berhak memisuhi orang, terkutuklah orang-orang Surabaya yang melestarikannya. Ingat ! kutukanku sesuai dengan Empu Gandring pada anak asuhan Bango Samparan.
Baiklah sudah, untnglah malam itu datang, kekesalanku akan nama Ucok mereda, tapi biar bagaimanapun aku juga kesal cok.
Orang bilang do'a yang teraniana adalah mustajab, aku berdo'a malam itu,"Ya Tuhanku, engkau tau aku dalam keadaan teraniaya, jangan biarkan aku menganiaya diriku sendiri dalam menghianati kuasaMU dengan aku mencuri. aku tahu Engkau berkuasa memberi makan maklukMu maka berilah aku makan, Tuhan".
Lama pula rupanya malam itu aku berdo'a, tak kunjung datang makanan. Harap ini semakin lama semakin mencemaskan, sudah aku putuskan berjalan keluar rumah, menikmati udara malam sambil menanti datangnya makanan.
Saat melintas di depan saung ronda, melihat pak Hansip membawa rokok merek Jawa Tengah tak kuasa juga langkah ini ikut nimbrong di saung ronda, sayup-sayup rasanya heran, kenapa orang kecil selalu murah hati dalam memberi dibanding orang kaya, singkat kata rokok gratis dari pak Hansip. Tapi bentar bentar...! lagunya yang diputar di saung kok Letto _Sebelum Cahaya. wah.
"Dek, tau gak Al-Qur'an dalam lagu ini" celetuk pak Hansip.
Lhoo ini kan lagu pak, bagaimana ceritanya bisa jadi Al-Qur'an, kalaupun ada ayat-ayat mutasyabihat tapi yang mana, ini lagu kan tentang cinta saja pak, wah. lagian juga kalo mau sok-sok interpretasi juga larinya ke cinta dua sepasang kekasih, mana ayat Al-Qur'annya.
"Wah dek, rupa-rupanya adek sebagai mahasiswa ini kurang jeli, kamu hanya gunakan otakmu untuk mengerjakan soal-soal kuliah, harusnya lebih dek. Aku ini termasuk pecinta lagu-lagunya Letto dek, lagu ini Sebelum Cahaya, liriknya sangat lembut, kabarnya menurut pencipta lirik lagunya, lagu ini adalah Alegori dari Firman Tuhan pada kanjeng nabi Muhammad dek. Disini Tuhan menyebut kanjeng nabi sebagai Cinta, karena memang Tuhan sangat mencinta Kanjeng nabi Muhammad melebihi siapapun cintanya pada Makluk di alam semesta ini. Coba renungkan liriknya.
Ku teringat hati Yang bertabur mimpi Kemana kau pergi cinta Perjalanan sunyi Engkau tempuh sendiri Kuatkanlah hati cinta
Ini maksudnya Tuhan melihat perjalanan kangjeng nabi dalam menyebarkan agama Islam, perjalanan kangjeng nabi untuk selalu mengajarkan manusia cara menemukan Tuhan. Kanjeng nabi dalam lirik ini digambarkan dalam usahanya ini selalu berjalan dalam kesunyian karena memang manusia tidak mengenal Tuhannya, manusia lupa akan tujuan hidupnya, dan saat itu pula kanjeng nabi sendirian untuk menyadarkan manusia menemukan Tuhannya, tapi lihatlah dalam lirik lagu ini dek, Tuhan memberi motivasi pada kanjeng nabi dengan kata-kata kuatkanlah hati cinta, dengan mesra Tuhan memanggil kanjeng nabi dengan sebutan cinta dek. terus lirik satunya,
Ingatkan engkau kepada Embun pagi bersahaja Yang menemanimu sebelum cahaya Ingatkan engkau kepada Angin yang berhembus mesra Yang kan membelaimu cinta
Itu adalah bentuk kasih sayang Tuhan pada kanjeng nabi untuk selalu ingat pada kuasa-kuasa Tuhan, kanjeng nabi di ingatkan untuk selalu merenungi Tuhan lewat kuasa-kuasanya pada alam.
Kekuatan hati yang berpegang janji Genggamlah tanganku cinta Ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri Temani hatimu cinta
Dan lirik ini yang paling menyejukkan dek, Tuhan mengabarkan agar usaha dakwanya kanjeng nabi berhasil, harus menguatkan hati untuk tetap istiqomah serta selalu ingat akan janji-janji Tuhan kepada orang-orang yang beriman, dan selalu megang teguh apa yang diberikan Tuhan, setelah semuanya Tuhan menutup firmannya dengan kabar gembira bahwa Tuhan tak kan pernah meninggalkan kanjeng nabi sendirian, Tuhan bersamanya selalu dek, Tuhan selalu menemani para pecintaNya, menemani hatinya agar selelau tenang dan nyaman. Begitulah dek kira-kira, Al-Qur'an ada dalam lagu ini dek, penciptanya telah menemukan kemesraan dengan Tuhannya, lewat apapun saja yang ada hanya Tuhan dek."
Serasa tersambar petir, melihat penuturan hansip ini, tak kuasa menahan tangis, meledak rasanya dada. hanya sanggup berucap "Tuhan, cintaMu begitu besar paa orang yang mencintaiMu".
Rasa-rasanya lapar seakan hilang dalam perut, yang ada hanya kepuasan, kenyang dalam kesejatian. Kakipun melangkah ke arah kostan dengan sangat ringan, saat akan memasuki kamar terlihat Ibu kost tergopoh-gopoh membawa sebakul besar makanan.
"Nak, ini nak ada makanan, rejeki dari tetangga habis syukuran" ujar Ibu Kost.
Bukan, ini bukan kamu, ini aku. jadi jangan marah apa yang aku cantum patut didengar malah membuat kalian berisik. Tapi seandainya ada kesamaan bolehlah kalian meniru. Aku tak percaya hak, itu semua hanya kumpulan pembual yang menang akan hegemoni karya. Semua tertuju untuk semua. Termasuk lagu.
Pendamping hening kawan, aku bukan tipe kumbakarna dalam wayang yang dalam keheningannya pasti dijumpai akan tidur. Aku laki-laki butuh pendamping, pendamping hidup misalnya. Lagu kawan lagu, indah hidup dengan lagu, nyaman hening dengan lagu.
Tapi, lagu klasik sering tersenderi dalam kelasnya, tahu? justru, karena dalam kelasnya yang tersendiri itulah jadi menarik dia, layaknya wanita desa ditengah ribuan wanita kota. Menyudur kata pram tidak dapat tidak mesti tergila-gila pada gadis cantik dalam kelasnya yang tersendiri. ah Mbulet ae. memang, mbulet adalah cita rasa sendiri, saat kita tak bisa menyakinkan seorang dengan kepintaran kita, kita buat dia bingung dengan kata-kata kita.
Lagu sebrang jauh sana, orang bilang ini lagu barat, ya hitung-hitung belajar pronunciation lah. Vocabulary lah.
1. The Beatles _ Hey Jude
Jangan diragukan lagi dengan sang legenda band ini, kiprahnya dalam dunia musik lebih tua daripada umurku, aku suka gaya rambut vokalisnya Jhon Lenon, mirip sahabat karipku dikampung. Banyak yang bilang ini jenis musik country, hanya berbasis gitar sedikit drum, alunan indah sesuai eranya bahkan era saat ini pun tetap. Ini barang kali yang disebut karya abadi. barangkali sih.
2. Scorpion_ Send Me an Angel
Tau sendiri arti judul lagunya, dalam hening anda menengadah ke langit sambil berujar "Tuhan kirimkan seorang bidadri untukku". Pasti lagu ini bisa menjadi pamungkas dalam penantian secara umum, bukan maksut mengenai. bagi yang punya cewek ya menanti ceweknya, bagi yang sudah punya istri ya menanti anak, bagi yang sudah punya anak ya menanti mantu, dan lainnya.
3. Muse _ Unintended
Liriknya sendu, sesenduh heningmu saat sendiri. Bahkan dengan merasakannya anda bakal tidur nyenyak malamnya. Itu baru tahap hepotesa saja bukan sesuatu kebanaran yang jadi torema lho, kalo terbukti, sudah aku kukukan teorema itu dengan nama Teorema Bulu.
4. Aerosmith _ I Don't Wanna Miss a Thing
Bagi pecinta film pasti tau lagu ini, filemnya Bruce Willis yang Armagedon, ini dia lagu pengiring filem legenda itu. Seolah perasaan campur haru, tak mau kehilangan, tak mau terakhir kali melihat sosok orang yang akan pergi jauh. ya inilah lagunya.
5. Rolling Stones _ Angie
Beruntunglah anda saat bernama Angie. Pastikan dengarkan lagu ini, sudah lepas terasa kaki menginjak tanah, terbang ke awan, sambil melambai-lambai kegirangan.
6. Queen _ Bohemian Rhapsody
Lagunya enak didengar, meski banyak perdebatan didalamnya, tetap lagunya bohay.
terutama yang liriknya
I see a little silhouetto of a man
Scaramouche, Scaramouche, will you do the Fandango
Thunderbolt and lightning, very, very fright'ning me
Bismillah (Alinya Wish me luck) ! No, we will not let you go
7. Bonjovi _ You Give Love a Bad Name
Paling suka sama gitarisnya, semakin tua semakin modis gayanya, mirip gitaris Gun'n Roses, Slash. Hentakan drumnya rasa-rasa pengen juga ikut berdiri sambil melambaikan tangan ala nonton konser.
8. Bob Marley _ One Love
Si pendobrak rasis Jamaika, pahlawan revolusi bagi kaum tertindas Jaimaika. Orang bilang ini musik pantai, setiap kali mendengarnya anda pasti goyangkan kepala. Buktikan jika tak percaya.
9. Queen _ Love Of My Life
'
Paling demen sama lirik
Bring it backbring it back,
Don't take it away from me,
Because you don't know what it means to me
10. Carlos Santana Feat Steve Tylor _ Just Fell Better
Santana, Gitaris terbaik dunia kolaborasi sama setan rokck vokalis Aerosmith, Steven Tylor, fantastik. Ini yang namanya duet. Sekali lagi tak lah sama duet sepanjang masa, Anang-Ashanti.
Wanitaku adalah perjalanan seorang diri. jalan jalan yang terjal dan kisah yang sunyi. Wanitaku adalah butir beras panen raya pertama. ia adalah semangat, adalah harapan, adalah doa yang tunai dan nyata. Wanitaku puting susu ibu. adalah kehidupan, adalah kasih sayang, adalah kebutuhan. Wanitaku adalah api. membakar birahi menyalakan terang. Wanitaku adalah jalan pulang rindu yang kekal dan harapan yang kalis. Wanitaku adalah kau yang menunggu.
Wanitaku adalah kau yang duduk termenung menghadap jendela, sambil melamun kapan priaku datang.
Wanitaku tak harus kuat. karna tugasku buat menguatkannya.
Wanitaku tak perlu bisa memasak
ia hanya perlu tahu cara berpikir dan mencintai anak-anaknya.
Wanitaku tak harus cantik. karena berdandan membuang waktu, membuatnya ragu membuatnya berpikir "apakah aku cantik? apakah aku beruban?" sementara kerutan di dahinya, di matanya adalah kisah tentang waktu yang gegas. Wanitaku tak perlu kaya. ia hanya perlu cara berbagi juga memberi.
Wanitaku pemalu. memerah pipi jika dirayu. Wanitaku pecemburu. melihat harap tak sejalan kenyataan. Wanitaku penuh prinsip. ia terlahir, menjadi dirinya sendiri. Wanitaku penuh haru. menangis terharu membaca hidup dalam pahit dan manis.
Wanitaku sejauh kesabaran dalam penantiannya. Kamu. Ya kamu, kamulah wanitaku.
Suatu saat kau marah dan akupun marah akan sikapmu, memang jarak adalah laknat sialan bagi para pecinta, tak mengerti arti bertemu. ketika kita sudah benar-benar dilahap waktu dan jarak. Kita akan belajar arti bersama. Ketika kau tersenyum dan aku terdiam. Waktu melambat dengan segala ketergesahannya. Tapi kukira ada yang lebih seru dari sekidar saling merinrindu. Yaitu perihal usahamu untuk mengerti aku, perihal kesabaranmu yang seperti muara. Juga ketabahanmu yang tak pernah jera. Kukira aku perlu belajar untuk bisa mencintai utuh sepertimu sayangku.
Barangkali pula ada yang lebih bijak daripada sekedar menulis dan berbicara. Ia adalah tindakan. Semisal cita-cita untuk membahagiakanmu, atau tentang menemanimu disana minum jamu yang menakutkanmu, atau menyeka pelan keringatmu ketika kita berdua menikmati mie yang sangat bedebah pedasnya. Aku, lebih dari siapapun di dunia, ingin bisa menunjukan tindakan padamu daripada hanya sekedar kata-kata manis.
Tapi seperti yang selalu kubilang. Hidup tak akan pernah sebrengsek ini apabila setiap keinginan kita terkabulkan. Manusia seringkali dipaksa memejalkan diri, menyabung nasib hingga tahap yang paling kalis untuk bisa sedikit lebih dekat dari keinginannya. Manusia lantas bersiasat soal keinginannya, memendam gelora sedemikian rupa hingga tanpa sadar keinginan itu lantas padam. Kukira hidup hanya sekedar barisan-barisan kekecewaan. Kamu tahu itu kasihku?
Beberapa dari kita begitu keras memendam keinginan sehingga ia menjadi robot. Menjalani hidup secara otomatik. Manusia yang menjadi sekrup untuk menggerakan sebuah mesin raksasa bernama masyarakat adil dan makmur. Lantas mereka menjadi mayat hidup. Sebuah entitas organik yang tak lebih dari pelumas dari organisme brengsek raksasa bernama pemerintah.
Aku tau kita tak begitu sayangku. Aku tau kita tak akan pernah mau menjadi itu semua. Lebih dari apapun yang ada. Kita ingin menjadi seorang tumbal, sebuah sekrup, setetes pelumas. Kita adalah manusia yang memilih merdeka ditengah jutaan mayat hidup di kota. Kita berdua menanam bibit mimpi. Merawatnya pelan-pelan. Memberinya pupuk harapan. Kita berjuang menumbuhkan keinginan ditengah belantara bernama ketidakpedulian.
Sayang. Kau tentu tahu bermimpi membutuhkan nyali. Bermimpi adalah pekerjaan gawat berbahaya yang hanya dilakoni oleh para pemberani. Mereka yang tahu benar dalam meraih mimpi kita hanya memiliki dua pilihan. Bertaruh habis-habisan atau kalah telanjang. Namun semua itu hanya perkara jalan hidup sayang. Hidup kita yang seringkali hanya bisa merintih perlu sesekali dilecut dengan ketakutan dan kengerian masa depan. Agar tak perlu ada lagi sedu sedan penantian.
Memang kita wajib berdo'a sayang. Doa yang barangkali hanya bisa kita rasakan. Seperti yang selalu kubilang sayangku. Puisi tak bisa dimengerti melalui hitung-hitungan rumus. Puisi selalu mewujud sebagai upaya mencari jati diri. Upaya untuk meredam segala yang wujud untuk memahami yang fana.
Mungkin ini semua tak penting bagimu. Aku tahu kau tak suka hingar-bingar dunia maya, Tak ada waktu bagimu untuk sekali lagi menjerat makna dari tulisan sentimentil ini. Tapi bagiku sayang, ketika kau jatuh cinta dan mencintai. Hidup adalah keberanian untuk berkata jujur. Bahwa diri ini tak lebih baik dari berak di jamban.
Terakhir sayang, Saat kau memanggilku abi, luluh lanta terasa sendi ragaku, aku berdo'a semoga Tuhan memudahkan jalan untuk aku yang biasa kau panggil sayang, abi, dadut, panda, mas dosen, bahkan abang bersegerah meminangmu, tungguh aku sayang. Dengan segelah kerendahanku, kabulkanlah Tuhan.
"Seperti dikabarkan Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika, intensitas hujan daerah Surabaya akan memasuki babak baru, Hujan yang melanda Surabaya akan meningkat menjadi status siaga satu", status facebook yang lebih mirip berita terucap dibalik muka saintistnya, ia dapat meramalkan cuaca, nasib bumi serta kabar teknologi termutahir abad ini. Seperti hidup yang diawali dari mani dan bertapa dalam rahim. Akhirnya lahirlah pemuda ini. Sebut saja ia Tiltul Ronando, pemuda kinyis-kinyis yang hobi belajar, sudah tampak dari kaca mata yang dikenakan, memegang teguh mitos yang di ucapkan para temanya, mitos yang menganggap suatu saat akan menjadi profesor di kampus tenama. Ia menyukai mistik, saat dibuka wajah aslinya akan tampak sendiri dengan mulut mangap dan kepala mengadah ke atas langit.
Tangannya terlipat didada, matanya tertutup, mukanya kumuh, pakaiannya
compang-camping, badannya bau. Pokoknya Tiltul sudah sah seperti para
penganut ilmu hitam di film-film sinetron indosiar jaman dulu, untung ia masih memandang kehidupan urban yang modern, baginya citra terkait media komunikasi atas
suatu kelas sosial. Citra membentuk penggunanya untuk tetap berada
dalam kelompok sosialnya. Mempertahankan eksistensi dan menyampaikan
sebuah pengakuan atas identitas diri, walhasil wajah aslinya akan tampak saat ia habis menonton Dua Dunia dan mintalah ia untuk bercerita. Tiltul melangkah saat langit sedang sibuk menyambut datangnya senja, dibumi, dibawahnya. Ada sebuah bangku taman yang paling ramai di kunjungi para penikmat obrolan santai. Taman paling prestisius yang ada di kampusnya. Karena hanya taman itu, aliran sungai kecil berada. Suasana lalu lalang para penggunna motor tersingkap luas, letaknya disamping parkiran membuat taman ramai dilalui kaki manusia. Di bangku taman itu tampak beberapa mahasiswa dan seorang mahasiswa yang menjadi perhatiannya, duduk,
kepalanya mendongak menantang langit. Sendiri, ditengah buas ramai taman yang tak pernah sepi. Tanpa dikomando, Titul menyergap pemuda yang sedari tadi melongoh. “heh minggir! Petugas mau lewat” kata pria saintist itu. “Eh enak saja! Antri dong emang kamu pikir aku gak ngantri pengen duduk” “saya ini petugas, kamu mau ditindak karena menghalangi tugas petugas yang sedang mau duduk?” . Aksi akrab dari seorang Tiltul saat menjahili para mahasiswa. “heh
Sodara! Ayo bangun berhenti melongo, yang anda lakukan ini adalah
pelanggaran hukum berat. Semacam penistaan hidup” kata pria saintis meniru gaya dosen yang selalu memanggil nama mahasiswanya dengan 'sodara' sambil mengacungkan jari telunjuk, mirip Bung Tomo saat memompa semangat arek-arek Suroboyo. “apanya yang melanggar pak?” kata seorang mahasiswa melongoh. “ya
ini, mengganggu kenyamanan publik, meresahkan para pemuda,
menggunakan fasilitas umum, membuat ikut galau dan sebagainya dan sebagainya”
sahut Tiltul itu mantab. “ah bapak lebih mengganggu, lebih meresahkan, seenaknya aja maen usir” jawab sebuah suara.
“heh
siapa itu? Hayoh maju! Ini pencemaran nama baik petugas! Biar
jelek-jelek gini saya gak punya rekening gendut! Saya gak bisa disuap
untuk jalan-jalan ke akherat! Saya ini petugas kegalauan! Jangan maen
slonong boy gitu kalok bicara. Sontoloyo!” teriak Tiltul dengan senyum nyengirnya. Tak hayal para mahasiswa kabur semraut, kini kediktaraon gurauan Tiltul berujung manis. Ia menyendiri, segera memberi tanda akan tempat duduk bak sudah di sewa. Sembari mikir masa depannya nanti, banyak hal yang tak bisa ia
sepakati dalam hidup. Seolah-olah ia adalah sebuah sekrup yang bekerja
mekanis dan sistematis. Robot yang harus tunduk pada perintah-perintah yang
bahkan ia sendiri tak bisa mengerti, mesti belajar mengamini kesendirian sebagai seorang karib yang
setia. Ahh! manusia selalu lahir dari kesunyian, kesendirian kemudian mati
dalam kesendirian. Lantas kelak di akherat, jika percaya, manusia
akan menemui sendiri pertanggung jawabannya. Mungkin bisa bertemu
dengan Santo Petrus di gerbang surga. Atau barangkali mesti menikmati
api penyucian dosa? Entahlah, seperti kata Chairil Anwar, nasib adalah
kesunyian masing-masing. Seperti tiba-tiba merindu lantas haru. Semacam kutu kupret yang
merusak keadaan, seperti itu kesendirian Tiltul merana, semakin merana tanpa adanya kopi, merana, persis seperti lirik lagu di filem bang haji omah. tanpa R.
Ah! memang tak pernah ada tolak ukur yang jelas bagaimana kita bisa mengenal atau
mendefinisikan bahagia. Ia merupakan terma abstrak, cair dan multi
interpertasi meski demikian selalu melahirkan pertentangan yang tak
jarang malah hanya membawa kemudharatan. Tapi bagi ia ada konsep
sederhana bagi bahagia, bahagia adalah orang-orang yang dalam kesendiriannya menyeduh nikmatnya kopi. Tidak ada kopi baginya adalah kehilangan tiada tara, kehilangan yang terlalu prosais untuk bisa diterjemahkan
dalam kata-kata. Bukan saja akan hiperbolis namun juga terlalu melankolis.
Seolah-olah kehilangan yang ia rasakan adalah yang paling hebat, yang paling
puncak sehingga penderitaan lain menjadi kurang penting. Atau meminjam bait
puisi yang digunakan Chairil Anwar “dan duka maha tuan bertahta”, ia pernah merasakan kehilangan
yang semacam itu. Menyedihkan.
Melangkahlah Tiltul ke kantin sebrang taman, Entah apa yang ada dipikirnya, ia menerobos masuk seperti para suporter saat melihat laga akbar Persebaya vs Arema. Jalanan yang dipenuhi oleh ratusan ribu orang. Yang panjang melingkar
seperti antrean tiket sepak bola. Ia terus melaju
melalui jalan sempit itu. Setelah akhirnya
sampai di tepat muka ibu penjaga kantin yang sebenarnya tidak terlalu jauh.
"Buk, pesan secangkir kopi wedok" tegas Tiltul.
Ibu itu hanya melongoh, tak tau apa yang dipesan pelanggannya. Mungkin dalam hati ibu ini hanya mengutuk sambil mengelus dada "Duh gusti, mimpi apa aku semalam, sampai bertemu pelanggan seperti ini" Si ibu lantas menengok ke
belakang. Mencoba meraba-raba dan memahami apa yang salah di masa lalu, ia
hanya menemukan sederet peristiwa yang membuat kekosongan itu semakin menganga.
Lubang itu membesar seiring ingatan yang ia gali dari keberadaan yang dulu. Mengabsen satu persatu pesan singkat memori otaknya “Oh ya, semalam aku mimpi menyisir rambut tumo, Pantes ketemu pelanggan aneh". celetuknya
Sekali lagi Titul berucap
"Buk, pesan secangkir kopi wedok" Terjerembab dalam ketidatahuan itulah apa yang dirasa si ibu. Ibu memasrah dengan kejengkelannya, menahannya dan membiarkan jengkel terpenjara terganti anggukan ritmis serta senyum khas "Maaf nak, gak punya kopi wedok" "Lhoo, masak gak punya buk?" "Bener nak, adanya kopi hitam, kopi jahe, kopi luwak, kopi trenggileng, kopi badak, kopi areng, dan kopi susu" "Nah itu buk, yang disebut terakhir, pesen secangkir ya buk" Tertegun, semacam nasib sial yang datang tiba-tiba, seperti yang dikatakan RA Kartini "Dalam diam hati wanita mengutuk-kutuk perilaku lelaki yang demikian". Si ibu hanya bisa melengos samar-samar berucap, "Dasar, Lelaki Mesum".
Kata siapa menanti itu melelahkan, penantian adalah masa saat merasakan bayangan keindahan, keindahan menyayangi serta berduaan. Manusia super penanti ini sangat mistirius, tindak tanduknya tak ingin setanpun tau, Tapi hidup adalah kejutan, maka marilah kita
kenali sedikit sosoknya. Konon katanya, seperti yang tertulis di kartu
tanda penduduk Republik Indonesia. Nama pejantan ini adalah Umar janCok. Nama yang aneh mengapa namanya bukan Umar Faruq atau Umar al-khotob ? Entahlah hal itu masih menjadi rahasia sampai
sekarang.
Ucok, panggilan akrab dari seorang Umar janCok. Tak perlu menunggu dicintai untuk mencintai, sekedar beri senyumpun jadi.
Secara fisik ia seperti manusia kebanyakan,
masih dalam spesies Homo Sapiens generasi pertama dan nampak seringkali berjalan bungkuk. Hal ini masih
dikonfirmasi adakah hubungan antara kebungkukannya dengan rantai evolusi
manusia darwin yang hilang. Pejantan ini sebenarnya cukup manis jika anda
memaksakan diri menatapnya tanpa henti selama dua hari. Sungguh, ia
punya pesona tersendiri yang hanya bisa dilihat dengan mata batin.
Tetapi ingat, jangan melakukan kontak fisik secara langsung bisa-bisa
anda di gampar!
Penampilanya modis khas gaya anak muda gaul masa kini. Tentu saja didikan majalah-majalah post- teenage yang high end.
Celana pensil, kaos distro dan sekali-kali jaket butut yang saya yakin
dulunya berwarna hitam. Yah seperti
yang banyak kita ketahui, pejantan sangat cuek terhadap
penampilannya. Namun mahluk yang seperti ini tidak seperti
itu. Gaya harus modis dan acapkali menolak memakai celana kain membuatnya tampak “tua” dimata orang.
"Sungguh aku yang rapuh dan lugu tidak tahu
bahaya apa yang aku hadapi saat mengenal gadis ini. Pesonanya membius
dan menaklukan otak pendekku" gumam Ucok saat berpapasan dek Cang Ehnya.
Sahabatnya yang sedari tadi hanya memikirkan kerja, kerja dan kerja tak menghiraukannya, Michael ataupun Toni adalah jenis hibrida baru yang terlahir kembali akibat gejala keimanan, kontra saat dihadapkan Ucok, dia adalah hibrida lama yang menderita karena cinta.
"Ton, lihatlah, disana aku lihat rembulan di siang hari. Bibirya mereka tanpa gincu, parasnya mulus laksana gurun sahari, mahkota kewanitaannya tertutup kerudung sutra halus, beruntung aku menyayanginya" Ujarnya sambil meneteskan liur mulutnya.
"Apa toh Cok, Rembulan itu jelek, kejauhan saja nampak indah, dari dekat permukaannya berlubang-lubang, tak bercahaya" kesal Michael.
"Lagi pula, kau tak dianggapnya, dia tak cinta kamu, lupakan sajalah" nasehat Michael.
"Ah kau ton, isi pikiranmu hanya uang saja, aku tidak percaya cinta, tapi aku percaya rasa sayang yang tulus" hujah seorang ucok dihadapan sahabatnya yang tak tau arti dari sayang. Aku selalu ingat. Tapi entah kau.
Tanpa diminta Ucok menceritakan pandangan pertamanya. Aku ingat sedikit jalan-jalan di kota
ini, yang basah setelah hujan. Tentang awal tinggal dirimu di sebuah Perumdos ITS. Bukankah kawanku yang menghantarkanmu? Tentu kau masih
ingat padanya. Tapi kau bilang kau bosan, kau tak suka, kau tak suka
dilarang bermain di loteng. Tentu aku ingat kau suka bermain di Loteng.
(Ah aku tak pernah tahu sedalam apa hubunganmu dengan gravitasi). Kau
selalu suka tempat tinggi. Aku membutuhkanmu. Aku butuh perempuan
tangkas yang tak bisa diam, yang tak peduli kulit hitam karena berjalan
panas. Perempuan yang memaksaku mengantri nonton laskar pelangi dan menangis
menghukat nasib Lintang yang suram, perempuan yang teguh bilang
Kerispatih itu keren meski kau tau aku jelas-jelas memandang mereka
najis haram, Perempuan yang menolak patriarki tetapi begitu senewen
minta di manjakan.
Itu kamu, yang membuat saya luluh. Kemudian
kita saling menyapa, meski mungkin hanya lewat teks. Karena kamu tahu?
Aku tak punya nyali, hanya omong besar, namun tak pernah ada keberanian
bertegur kata.
Tetapi aku tak pernah lupa detik, gestur, ekpresi, suara,
lekuk, gerak dan moment saat kau menyapa dengan khas. Kau sebut namaku
dengan imbuhan “Mas”, maka terkutuklah Nietsche yang membunuh tuhan.
Karena ia tak pernah melihat momen ini sebagai hal paling kudus dalam
hidup. Ia dengan kata sederhana meruntuhkan menara Babilon dalam diriku,
memporak-porandakan peradaban patriarki ala Sparta.
Hingga aku lengser di ujung rupa penjelmaan si pendobrak Artemis yang
menitis dalam dirimu. Aku mabuk, orgasmus dan menggelepar dalam trance
tak berucap. Lalu jatuh sayang kepadamu adalah tindakan wajib dan tak
membutuhkan sikap aposteriori. Tidak perlu Kant untuk membuktikannya.
Karena itu wajib dan semua yang wajib hukumnya Fardhu! Itu bukan
monopoli titah wahabi tapi semua umat yang pake embel-embel agama di KTP
nya. Dan di ujung hari aku bertakbir Amor Platonicus!
Aku rindu kau dalam banyak bahasa.
Ya aku kemudian berani untuk mengambil resiko jatuh sayang padamu. Ya
serupa nyali Perseus yang memusnahkan Kraken, aku putuskan untuk
mengenalmu, mengejarmu, dan berusaha memilikimu. Aih? Tidak, kau bukan
untuk dimiliki, kau bukan benda, kau lebih luhur dari padan kata surga
dan suci sekaligus. Meraih ya meraih, sehingga keberadaanku kau akui,
aku akan meraih predikat itu. Aku mulai berani bertukar sapa dalam
jejaring provider seluler. Karena menatapmu langsung akan membuatku
ringkih, lemah dan tak berdaya. Sedikit demi sedikit aku membangun
sedimen keberanian untuk bertemu denganmu, mengajakmu makan di kaki lima
tanpa takut diare atau hepatitis,(ini pun dalam tahap angan). Aku selalu kagum atas sikapmu yang
tak ambil pusing. Itulah kamu, tidak perlu
rapal mantra aji jaran goyang atau puji laku pengasihan. Hatiku ini
rontok untukmu! Sedikit demi sedikit dalam diri ini terpatri sebuah
sarkofagus, dengan ikrar. Hingga pada batas masa penciptaan yang
diakhiri 4 penunggang kuda, aku tak akan menyesali keputusan ini.
Keputusan untuk jatuh sayang, meski akhirnya sangat perih.
Nafasnya bau anyir seperti nafas para raksasa dalam cerita wayang, tubuhnya kusam seiring dia bersepeda berteman sang surya, jangan bertanya mengenai keringatnya. analogikan saja dia dengan para pelari maraton jarak Sby-Madura melewati daerah Tenggumung yang penuh sesak dikerumunan debu-debu jalanan. Si Toni sudah lelah bekerja. Tenaganya habis diperas, kepalanya pusing
memikirkan SPP. Uang kost belum juga dibayar. Uang
pinjaman dari bandar togel gang senggol sudah habis. Sawahnya sudah
digadaikan buat uang gedung saat kuliah. Matanya nanar, menahan
perut lapar yang sudah setengah hari ditahannya. Ibu si Toni sudah
lama bersibaku dengan jualan mie goreng kelilingnya. Si Toni kini hidup di kota para pejuang, menampakkan wajah desanya pada ribuan jama'ah mahasiswa/i kota, sampai dengan tekatnya melapas status desanya, diapun sering mengenalkan nama menjadi Michael.
Toni sendiri sudah sejak akil balig jadi pekerja serabutan. Cuma tenaga yang
bisa ia jual, lain tidak. Hari ini ia resah sekali, jika sampai nanti
bedug Ashar belum punya uang. Dia akan ditendang dari
rumah kost, yang serupa kandang kerbau itu. Rumah itu tak seberapa
luasnya, hanya 6x6 meter saja. Itu pun harus berdesakan dengan setumpuk pakaian yang terpaksa cuti cuci karena kesibukan kerja si empunya. Toni sudah lelah berdoa. Sarung dan sajadahnya sudah lama rusak dimakan
tikus. Namun ia percaya seorang manusia tidak akan selamanya sengsara.
Nampaknya ia dikhianati kepercayaannya. Sejak tadi ia melirik-lirik obat
nyamuk cair cap asoi yang ada dibawah meja. Berulang kali terlintas
untuk menegak dan menyerah pada keadaan. Toni mendengar suara berisik dari masjid. Ia berteriak-teriak bagai orang
gila. Ia mengumpat tuhan, tuhan diam saja, ia memaki tuhan, tuhan pun
diam saja, ia menghina tuhan, tuhan pun tak berbuat apa-apa. Akhirnya Toni duduk lemas dibawah pohon beringin. Lelah ia berteriak, nafasnya
satu dua. Badannya berkeringat. Orang-orang mengerumun mendekat. Pak
Haji datang membawa air. Disuruhnya Toni ibadah. Toni marah, mengumpat
dan meludah.
Pak
Haji lari. Orang-orang juga berlari. Sandal bertebaran. Toni berdiri.
Ia berjalan tak tentu arah. Toni berhenti. Di depan sebuah kuburan. Toni menangis. Sekali lagi Toni duduk menangis. Toni melihat nisan entah siapa di taman makam Keputih.
Lahir Nopember mati Oktober. Tulis di nisannya. Toni menangis. Meraung
raung. Sahabatnya datang. Umar namanya, tak kalah menyedihkan dari si Toni, ibarat sebuah roman film, si Umar adalah Cu Pat Kay yang selama hidup merindukan adik Cang Eh, si Umar senyum. dikatakannya.
“Ton, jika kamu ada beban, Ceritalah. Jika kamu menganggapku anugrah, rela aku memikul sebagaian deritamu, Ton”
Adalah Toni , meski bengis dan kejam dunia merombak imannya. Terhitung dari SD dia sudah berpindah agama tiga kali, sudah kenyang dia mengenyam candu agama meski tak sedalam Khalil Gibran. Tak sanggup ia
membenci sahabatnya. Digandengnya si Umar. Beranjak ia ke surau,
tempat yang sudah asing baginya. Ade sudah menanti, tersenyum ia
melihat Toni.
“ah kau sudah datang sahabat, tak percuma aku menunggumu dalam gelap” sapanya sambil merangkul Toni bak kawan lama.
Wajah melow Ade Habib Achmad Badrawi bin Umar Bin Said Bin Soleh datang
mampir sedikit. Senyumnya tulus, seutas lunas tanpa pamrih. Wajah tenang
yang sudah kenyang ditubruk malang. Wajah sejuk yang sudah tamat
melihat kutuk.
“sudah kah kau sujud Ashar kawan?” Tanya Ade.
Yang ditanya diam tanpa suara. Ade melow datang hendak merangkul, namun sudra mundur seperti takut dipukul.
“ada apa kawan lamaku? Tak bolehkah aku ini memeluk sahabat lamanya?” tanya Ade sambil tersenyum.
“malu aku De, pantaskah pendosa dipeluk wali macam kau?” kata Toni meringkuk.
“aih, sejak kapan aku yang hina ini jadi wali? Dikutuk Munkar dan Nakir aku nanti” katanya.
“aku,
seperti dirimu adalah pendosa kawan, tak sedikit dusta mengalir dari
mulutku, tak sedikit hatinya yang kusobek karena ulahku, dan tak ayal
sikapku pernah menghunus hati orang” kata Ade melow menambahkan.
“aku
“aku lupa cara mencintai-Nya De” Toni bicara.
“tapi ia tak lupa beri kau cinta Ton” jawab Ade melow.
“aku sudah menghujat-Nya Ade” Toni kembali bicara.
“jika ia murka, sudah lepas kau punya kepala” jawab Ade melow.
“aku pernah membenci-Nya De” Sudra sekali lagi bicara.
“pernah
ia tak memaafkan hambanya Ton? Bahkan iblis laknat pun akan diberinya
ampun jika ia mau bertobat dan bersujud dibawah makam Adam” jawab Ade melow.
“mau kau lebih laknat dari Iblis Ton? Sudah lupa kau cara sholat kawan?” kembali Ade bertanya.
“tidak De, meski aku membenci-Nya, dalam sumpah syahadat tak mungkin aku
lupa cara memuja-Nya” jawab Toni. Membanjir sudah air matanya. Kembali
ia menatap ke sahabatnya yang sedari tadi masih melongo meratapi adik Cang Ehnya. Sungguh tidak ada warna lacur kebohongan
dari anak yang dibesarkan penderitaan. Dihembuskan nafas kerelaan, yang
entah sudah keberapaia hembuskan.
Hari
ini aku berhutang nafas perjuangan padamu Yang Maha Menguatkan.
Berjalan ia dalam keheningan. Diajak sahabatnya serta. Sebelum lepas nafas
dari tenggorokan, aku bersumpah pada ia yang memutar bumi dan
mengendalikan waktu. Tak akan kubiarkan kemlaratanku lepas kering bibirku
mengingatmu Yang Maha Tak Tersamai. Pelan-pelan
air bejana tanah itu mengalir, membasuh muka, tangan, rambut, telinga
dan kakinya. Di ikuti oleh sahabatnya, beserta Ade melow disampingnya.
Matahari waktu Ashar terasa lembut datang. Sudah lupa mereka tentang
hutang, tentang SPP, dan tentang kostan. Ia bersatu dalam remang
suara takbir, bibir merapal Al Fatihah, bersemadi memohon jalan yang
lurus.
Maka
ia yang selalu memohon kekuatan iman padanya akan datang lebih mulia di
alam raya. Dan mereka yang memohon kemuliaan di jagat raya, akan
tersungkur berteman mesra dengan iblis di neraka. Toni sudah lepas
hutang tobat pada penciptanya. Kini ia hidup sendiri, dijalan, tanpa
asuransi esok makan apa. Namun ia punya deposito berbunga,
berlipat-lipat, beranak-pinak. Kelak saat lepas nafasnya, sebuah
rekening pahala akan tuntas dibayar oleh yang Maha Memberi. Untuk semua aku berikan. Ibuku dan si bungsu, sahabat-sahabatku, kalian harus merasakan hasil jerih payaku nanti.
"Akulah Michael, putra asli Kediri" Ucapnya menengadah langit.
Toni yang bernama Michael, sebelum berubah menjadi Michaelonan
Terkadang, mungkin perlu aku ungkapkan apa yang ada, dan mungkin juga banyak tersimpan rahasia dalam detak jantungku ini, Aku tak ingin siapapun tau, Tapi tentang dirimu. sungguh, aku akan umumkan pada SEMESTA. kalau aku memang cinta kamu.
Dan aku biasa memanggilmu dengan Lailaku.
kau tau, Laila adalah malam, saat itulah saat dimana aku sangat tenang, nyaman dan sungguh sangat suka malam.
L,
aku percaya tidak pernah ada kerinduan yang lunas terbayar. Maka biar
aku kisahkan sebuah penantian panjang akan rindu. Kau pasti akan berpikir
bahwa aku menjadi hiperbolis lagi. Mungkin, tapi serupa garis pada
pantai, aku hanya mencoba berpikir lebih panjang. Sepanjang rindu Qais pada Lailanya, begitupula Aku pada Lailaku.
L, rindu ini dalam namun sekali lagi tak perih. Jikapun perih akan kubuang
jauh. Karena rindu yang kau pahat ini adalah tentang kesadaran. Kau
menyadarkan aku tentang kedewasaan, tentang tanggung jawab dan tentang
pentingnya cinta. Dan tahukah kau, rindu ini kau sayat pelan
Serupa dengan sayatan Sinta pada jantung Ramawijaya. Dia sanggup mengalahkan sang angkara murka, Rahwana.
L, rindu itu berkecambah dalam perbincangan kita. Perbincangan larut malam yang kita lalui. Perbincangan tentangmu,
tentang hidup yang keras, sungai yang dalam, tanah yang hilang dan mimpi
yang tinggi.
L, rindu itu melebar, berkembang dan mengeras. Adalah obsesi akan
penaklukan yang menunjukan jalan. Bahwa dalam setiap rindu ada pesan dan
keberanian untuk bertemu. Kau membuatku mengerti, bahwa untuk menghargai
hidup maka aku harus merindu sangat hebat.
L,
aku menikmati rindu tapi bukan masokis. Adalah sesat menikmati kesendirian, namun terpujilah mereka yang mengamini pencerahan lewat rindu. Rindu mungkin mengajarkan rasa sakit, dan rasa sakit mengajarkan
kesembuhan. Dan kesembuhan mengajarkan kedewasaan. Namun rindu yang tak
berperih mengajarkan sikap.
L,
aku tahu kau benci kata gombal. Padahal demi langit yang biru dan tanah
yang basah, aku tak mahir menggombal. Dulu saat SMA, nilai gombalku
selalu merah, guru selalu memandangku sendu 'sungguh malang nasib
wanitamu kelak, karena kau tak pandai mengumbar rasa'.
L, sungguh
aku ingin bertemu. Bukan karena takut saat ini aku tak di depanmu. Tapi
hutang tanggung jawab mencegahku pergi, setelah tugas ini selesai aku
akan kesana. Menemuimu untuk menagih janji, sepiring masakan yang kau masak dengan keringatmu sediri. Bukankah kau tau aku ingin merasakan masakanmu yang keasinan itu?
L,
maaf aku suka mengintip. Mengintip wajahmu dalam jaringan sosial. Yang
melengkung luas seperti gurun, namun syahdu seperti senja warna emas
pada bulan Januari. Tapi kau selalu meracau betapa pendek, kurus dan
jeleknya dirimu. Namun aku selalu bergumam, tentang betapa sempurna,
indah dan sederhananya dirimu.
L,
aku tahu kau tak suka nasihat. Tidak dari orang payah macam aku, tapi
kumohon. Baik-baiklah kau disana, ingatlah untuk istirahat. Selembar
badanmu yang tipis itu mungkin kuat, namun karang paling keraspun akan
rapuh diterjang angin.
L,
bisakah kau turuti aku sekali saja? Berhentilah khawatir pada orang
lain, hatimu yang hampir maha luas itu suatu saat akan penuh dengan
curahanhati orang lain. Dan pada akhirnya akulah yang paling khawatir melihatmu resah.
L, aku benci kau marah. Dan sialnya marahmu itu sepertihujan
musim semi, aku tak pernah tau kapan akan terjadi. Bukankah sudah
kubilang, aku tak mengerti tak mengerti perempuan, dan aku tak mengerti
kau. Bahkan ilmu semiotika paling wahid pun, tak mampu mengurai penanda
dan petanda rasa yang kau umbar. Sungguh aku tuna citra, karena pesonamu
yang bening itu.
L,
Pada awalnya adalah pesona akan nalar, yang dibalut dalam sebuah mata
indah tulus dibalik kaca. Aku percaya matamu yang luas itu adalah
anugrah. Yang mampu menahan laju gelombang kesedihan yang paling besar
sekalipun.
L,
ini adalah paragraf terakhir. Aku rindu kau, tawamu
dan suaramu. Kita mungkin baru sekali bertemu. Tapi bukankah siang dan malam
tak pernah bertemu, namun mereka padu dalam nasib? Jadi jika aku telah
sampai disana. Akan kukabarkan aku indu. Karena hanya rindu yang
menjauhkanku dari mengingat jarak.
Setelah melihat Reportase teater Nabi Darurat Rosul Ad-Hoc, saya kembali terlena oleh dialog-dialog yang dimainkan, seakan dialog itu memang terjadi ditengah-tengah kita dan menunggu eksekusi kita. Terjadi perang supremasi kebiasaan miring yang sudah melanda. hanya ada satu solusi, memulai hal baru atau larut dalam kebiasaan miring tersebut yang mungkin bisa berakibat kita menjadi miring juga.
Dalam kemunculannya, sebelumnya disertai dengan berbagai lantunan irama Terbit rembulan dan sekonyong-konyong koder muncullah Ruwat Sengkolo, satu tokoh teater Nabi Darurat Rasul Ad-Hoc Dengan iringan musik Dari Sabang Sampai Merauke, Ruwat Sengkolo meneriakkan nyanyian, “Dari Sabang sampai Ternate, berjajar pulau-pulau!”
Ki Janggan masuk panggung sambil memotong musik yang sedang dimainkan, “Apa itu, apa itu, kok gitu. Coba ulang, ulang!”
“Dari Sabang sampai Ternate, berjajar...,” ujar Ruwat, “Maaf, Guru.”
“Kok Ternate?”
“Ampun Guru, saya mendengar Irian Jaya sedang terancam. Kalau
kita nggak serius menjaga negara, dia bisa lepas dari tangan kita
seperti Timor-Timur dulu.”
“Justru karena itu lirik lagunya harus tetap ‘Dari Sabang sampai
Merauke’. Kamu sebagai generasi penerus harus meneguhkan nasionalisme.”
“Siap Guru! Hidup matiku untuk NPKRI!”
“Lho kok NPKRI?”
“Negara Persatuan dan Kesatuan Republik Indonesia, Guru.”
“NKRI!”
“Ampun Guru, selama ini Guru mengajariku berpikir utuh. Persatuan
dan kesatuan tak bisa dipisahkan. Pidato semua pemimpin kita tidak
pernah menyebut persatuan dan kesatuan sebagai terpisah. Persatuan harus
kesatuan, kesatuan harus persatuan.”
“Ya, ya, ya... Kamu berpikir utuh dan logis, tapi tidak lazim,
tidak umum. Yang lazim dan konstitusional itu NKRI, negara kesatuan dari
beragam-ragam suku dan golongan.”
“Siap Guru! Bhinneka Manunggal Ika!”
“Bhinneka Tunggal Ika!”
“Ampun Guru, yang Tunggal itu hanya Tuhan. Kalau manusia itu manunggal, menyatu, nyawiji kata orang Jawa.”
“Tunggal itu satu-satunya, the only. Tuhan Yang Maha Tunggal,
bukan Tuhan Yang Maha Esa. Kalau esa itu bisa diteruskan ke dua, tiga –
seperti bahasa Tagalog : Esa, Dalawa, Tatlu, Apat, dan seterusnya. Kalau
Tunggal, tidak ada ‘dua’-nya, tidak ada ‘tiga’-nya.”
Terdengar derap suara sepatu lars menjejak lantai dalam langkah-langkah tegap. Ruwat dan Ki Janggan menepi.
“Saya Gaspol! Saya petugas kepolisian. Saya penjaga konstitusi
dan penegak hukum. NKRI itu harga mati. Yang menentang NKRI, harganya :
Mati! Sudah jelas cetho welo-welo, kata NKRI disebut secara tegas dalam
teks Proklamasi dan UUD ’45. Barangsiapa melawan, berhadapan dengan
Gaspol!”
Usai menyampaikan pesannya, Pak Gaspol kembali menghilang dari panggung.
“Itulah sebabnya Guru, sila pertama adalah ‘Tuhan Yang Maha Tunggal’.”
“Apa-apaan kamu. Sila pertama itu ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’.”
“Ampun, ampun, Guru mengajarkan kepadaku untuk berpikir jernih.
Ketuhanan itu sifat. Tuhan itu subyek, maha subyek. Yang disembah oleh
seluruh bangsa kita bukan hanya sifat Tuhan, tapi Tuhan sendiri.”
“Ruwaaaat! Pikiranmu berbahaya dan semakin sesat.”
“Kita menyembah Tuhan, bukan ketuhanan. Bendera kita Merah Putih, bukan kemerahan dan keputihan.
Tiba-tiba terdengar suara terkekeh-kekeh dari belakang panggung. Lalu muncul sosok Pak Jangkep, ayah dari Ruwat Sengkolo.
“Keputihan, keputihan, sembelit!”
Ki Janggan dan Ruwat kaget oleh kedatangan Pak Jangkep. Masing-masing menyapa. Ruwat membimbing tangan bapaknya.
“Mohon maaf Pak Jangkep, saya merasa salah telah menjadikan Ruwat seperti anak yang salah didik.”
“Salah asuhan. Saya juga salah dalam mengasuh anak ini.”
“Saya tidak pernah mengajarkan semua yang dia omongkan tadi.”
“Kalau mikirmu seperti itu, lama-lama kamu bisa jadi teroris, Ruwat!”
“Guru pernah mengajarkan bahwa pikiran kita memerlukan teror supaya dinamis dan kreatif.”
“Maksudku bukan teror pikiran, tapi teror... ya terornya teroris itu lho!” jawab Pak Jangkep.
“Pak Jangkep bapakmu ini was-was, Ruwat, jangan sampai kamu melanggar hukum. Negara kita ini negara supremasi hukum.”
“Ampun Guru, hukum itu mutlak penting, tapi letaknya paling
bawah. Kalau kita tidak menolong orang yang menderita, kita tidak
dipersalahkan oleh hukum. Koruptor harus dihukum, tetapi kalau petugas
hukum tidak menghukum koruptor, atau pura-pura tidak tahu bahwa
atasannya terlibat tipikor, petugas itu tidak dihukum oleh hukum.”
“Kamu ini sekolahnya kebatinan kok ngomong hukum!”
“Kamu ini sedang menuduh ada petinggi yang korupsi tapi bebas hukuman, begitu?” tanya Ki Janggan.
“Bukan Guru, yang saya bicarakan ini soal supremasi. Yang
berpikir supremasi hukum itu petugas negara. Tapi kalau rakyat,
berpikirnya harus supremasi keadilan. Kalau masyarakat, fokusnya
supremasi moral.”
“Owalaah Ruwaaat...Ruwaaat.. Kamu ini penganggur, makan saja sering masih minta-minta, kok sempat-sempatnya mikir hukum,” ujar Pak Jangkep.
“Justru karena ndak punya kerjaan maka murid saya ini pikirannya ngomyangke mana-mana, Pak Jangkep.”
“Bahkan, seharusnya, Jaksa jangan hanya pandai mencari kesalahan. Jaksa juga harus pinter mencari kebenaran.”
“Jaksa kok disuruh cari kebenaran. Terus isi tuntutannya apa?”
“Mungkin maksudnya Ruwat, Jaksa ke pengadilan tidak hanya
menyeret terdakwa kejahatan, tapi bisa juga terdakwa kebaikan. Kalau
terbukti jahat, Hakim menghukum. Kalau terbukti baik, Hakim
memerintahkan kepada pemerintah untuk memberinya hadiah.”
“Aslinya memang begitu. Hakim di Pengadilan, modal utamanya bukan
pasal-pasal hukum melainkan rasa keadilan dan keteguhan moral. Sangat
mungkin manusia melakukan kesalaan yang belum ada pasal hukumnya. Buah
catur saja yang jumlahnya hanya 32, punya 114 juta kemungkinan langkah.
Lha kalau buah caturnya sebanyak penduduk Indonesia, 235 juta, berapa
trilyun probabilitas pelanggaran hukumnya? Maka Hakim harus selalu siap
menciptakan pasal-pasal baru berdasarkan kejujuran nuraninya, rasa
keadilan dan keteguhan moralnya.”
Muncul lagi dari belakang panggung Pak Gaspol, kali ini lebih garang. Yang lain kembali menepi.
“Ini negara supremasi hukum! Jangan ditambah-tambah dengan
supremasi-supremasi macam-macam lainnya. Hukum thok saja sudah repot!
Saya anggap, semua yang di luar supremasi hukum adalah pelanggaran
hukum. Dan saya akan bertindak tegas. Hukum itu tidak pandang bulu,
hukum itu buta kulit, buta warna, bahkan kalua perlu buta huruf. Tidak
peduli Syiah, Si B, Si C, Silalahi, Sikeas, kalau diduga melanggar
hukum, akan saya panggil, saya periksa!”
Pak Gaspol lantas berjalan melintasi para narasumber, lalu memandangi deretan personil Kiai Kanjeng, “Siapa kere-kere ini? Ati-ati, jaga kelakuannya. Nanti saya pilih siapa yang teroris di antara kalian!”
Ya, saat ini, detik ini kita butuh sosok Nabi darurat, sebuah istilah yang mengambarkan sosok manusia biasa yang mempunyai intuisi, akhlak, dan pemikiran seperti halnya Nabi. Kita butuh sosok itu untuk memperbaik carut marut bangsa ini, bangsa yang besar ini tak mungkin berhasil dipimpin oleh orang yang cengeng, orang yang menganut mentalitas budak, harus dipimpin oleh sosok sekarakter Nabi. Sosok yang bisa membawa Indonesia menjadi bangsa cipratan surga.