Photobucket

Kamis

Raja Jawa Tanpa Mahkota (H.O.S Tjokoaminoto)

 Ada yang pernah bilang kepada saya, "jika kamu ingin mengenal dirimu maka kenali dulu siapa dan bagaimana leluhurmu". Meski dalam batin saya menolak statment tersebut, tapi dilain sisi saya tergugah dengan statment itu, Bagi saya, bagaimanapun juga, tidak akan pernah ditemui seuatu aspek dalam diri manusia yang sama walau itu terkait dengan gen keluarga, diriku itu ya saya, dan dirimu itu ya kamu, dan leluhurmu juga lelehurmu. 

Tapi setidaknya statment itu yang menjadi gelora saya hari ini untuk menulis mendobrak kemalasanku sebagai orang pribumi, membubuhkan label baru "Satria Nusantara", bisa dibilang kilas balik para pelaku sejarah yang, setidaknya, memberikan ruang dalam diri saya untuk mengenal siapa mereka. Bukan sebuah pengkultusan individu (baca saja, pemujaan berlebihan terhadap orang tertentu) melainkan upaya saya untuk mencegah amnesia sejarah, khususnya kaum pemuda, seperti saya ini...ehehe

"... kita diberi makan bukan hanya karena kita dibutuhkan susunya.."

Seperti itulah ekspresi patriotisme Haji Oemar Said Tjokroaminoto dalam aksinya menentang penghisapan dan eksploitasi oleh pemerintahan kolonial.
Laki-laki kelahiran Desa Bakur, Tegalsari, Ponorogo, Jawa Timur pada tahun 1883 ini memang tak memiliki pendidikan formal tapi pemikiran dan upaya perjuangan mengkompori rakyat untuk merdeka sangatlah luar biasa.

Karier Tjokro berawal ketika dia bertemu dengan Haji Samanhudi, pendiri Serikat Dagang Islam (SDI bukan S.I.D), sesuatu yang aneh memang, Tjokro lebih memilih SDI ini, bisa dibilang dia adalah tokoh yang berupaya keluar dari belengu-belenggu budaya Jawa, tidak mengherankan jika dia tidak memilih  Oragnisasi Budi Utomo sebagai wadah perjuangannya, padahal kalao dilihat dari silsilah keturannya, dia layak bergabung dalam organisasi ekslusif para pryayi itu.

Dia lebih memilih SDI sebgai wadahnya, sebagai anggota muda, dia tebilang kritis, terbukti saat itu dia mengusulkan agar nama SDI diubah menjadi Sarikat Islam (SI) - tanpa meninggalkan misi dagangnya - agar lebih luas cakupannya. Dengan geraknya yang agresif dan totalitas, Tjokro berhasil membawa SI menjadi oraganisasi besar dan lebih dari sekedar urusan dagang, SI dirombaknya menjadi organisasi yang bertujuan meningkatkan taraf hidup dan perekonomian orang Indononesia secara umum, dan hal itu yang ditakuti kolonial belanda, dengan dukungan rakyat akan karakter H.O.S Tjokroaminoto  yang besar dan kepercayaan rakyat yang ditaruh dipundaknya menjadi cambuk api bagi kolonial, tidak heran jika kolonial Belanda saat itu menjulukinya dengan De Ongekroonde Van Java atau "Raja Jawa Tanpa Mahkota", dan hal itu tentu memberikan anging segar kepada rakyat akan perubahan.
Hal yang kurang nampak dan perlu diwaspadai menurut kolonial saat itu adalah SI merupakan organisasi keagamaan, seperti yang kita semua ketahui bahwa Belanda telah membangun sistem keamanan mereka dengan  memerintah secara tidak langsung berdasar struktur adat pra-Islam serta mendukungnya - jika perlu melawan mereka yang mengklaim sebagai pemimpin Islam bagi rakyat sekitar - secara umum untuk membatasi kekuatan Islam di  Nusantara. Saat itu yang konsep bangsa Indonesia belum ada, umumnya orang di seluruh Nusantara belum berpikir kearah tersebut- Islam muncul sebagai sumber pencentus persatuan melawan penguasa asing, dan hal itu yang membuat Belanda sangat hati-hati dengan SI.

H.O.S Tjokroaminoto menyadari kekawatiran Belanda saat itu, dia semakin membawa SI masuk kedalam situasi perpolitikan, dengan agresi pemikiran dan perjuangannya melawan cengkraman tiran kolonial Belanda, Tjokro akhirnya merintis SI menjadi wadah politik dengan nama Partai Sarikat Islam, inilah cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI), meski Tjokro secara tegas menolak paham komunis masuk kedalam struktur partai. Tapi saat Tjokro wafat tahun 1934, komunis berkembang pesat ditubuh organisasi yang dirintisnya itu.

Guru yang sukses adalah saat guru itu mempunyai murid-murid yang bisa menruskan perjuangannya, deretan nama pahlawan nasional pernah menjadi muridnya, Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo yang dikenal dengan pendiri DI/TII dan  si banteng besar Indonesia , oekarno, mereka adalah penerus perjuangan H.O.S Tjokroaminoto,
"Tjokroaminoto adalah guru saya yang amat saya hormati. Kepribadian dan Islamismenya sangat menarik hati saya " Kata Soekarno





0 comments:

Posting Komentar

sampaikan unek-unekmu....!!!