Photobucket

Rabu

Penantian si Ucok





Kata siapa menanti itu melelahkan, penantian adalah masa saat merasakan bayangan keindahan, keindahan menyayangi serta berduaan. Manusia super penanti ini sangat mistirius, tindak tanduknya tak ingin setanpun tau, Tapi hidup adalah kejutan, maka marilah kita kenali sedikit sosoknya. Konon katanya, seperti yang tertulis di kartu tanda penduduk Republik Indonesia. Nama pejantan ini adalah Umar janCok. Nama yang aneh mengapa namanya bukan Umar Faruq atau Umar al-khotob ? Entahlah hal itu masih menjadi rahasia sampai sekarang. Ucok, panggilan akrab dari seorang Umar janCok. Tak perlu menunggu dicintai untuk mencintai, sekedar beri senyumpun jadi. 

Secara fisik ia seperti manusia kebanyakan, masih dalam spesies Homo Sapiens generasi pertama dan nampak seringkali berjalan bungkuk. Hal ini masih dikonfirmasi adakah hubungan antara kebungkukannya dengan rantai evolusi manusia darwin yang hilang. Pejantan ini sebenarnya cukup manis jika anda memaksakan diri menatapnya tanpa henti selama dua hari. Sungguh, ia punya pesona tersendiri yang hanya bisa dilihat dengan mata batin. Tetapi ingat, jangan melakukan kontak fisik secara langsung bisa-bisa anda di gampar!

Penampilanya modis khas gaya anak muda gaul masa kini. Tentu saja didikan majalah-majalah post- teenage yang high end. Celana pensil, kaos distro dan sekali-kali jaket butut yang saya yakin dulunya berwarna hitam. Yah seperti yang banyak kita ketahui, pejantan sangat cuek terhadap penampilannya. Namun mahluk yang seperti ini tidak seperti itu. Gaya harus modis dan acapkali menolak memakai celana kain membuatnya tampak “tua” dimata orang.

"Sungguh aku yang rapuh dan lugu tidak tahu bahaya apa yang aku hadapi saat mengenal gadis ini. Pesonanya membius dan menaklukan otak pendekku" gumam Ucok saat berpapasan dek Cang Ehnya.

Sahabatnya yang sedari tadi hanya memikirkan kerja, kerja dan kerja tak menghiraukannya, Michael ataupun Toni adalah jenis hibrida baru yang terlahir kembali akibat gejala keimanan, kontra saat dihadapkan Ucok, dia adalah hibrida lama yang menderita karena cinta.
"Ton, lihatlah, disana aku lihat rembulan di siang hari. Bibirya mereka tanpa gincu, parasnya mulus laksana gurun sahari, mahkota kewanitaannya tertutup kerudung sutra halus, beruntung aku menyayanginya" Ujarnya sambil meneteskan liur mulutnya.
"Apa toh Cok, Rembulan itu jelek, kejauhan saja nampak indah, dari dekat permukaannya berlubang-lubang, tak bercahaya" kesal Michael.
"Lagi pula, kau tak dianggapnya, dia tak cinta kamu, lupakan sajalah" nasehat Michael.

"Ah kau ton, isi pikiranmu hanya uang saja, aku tidak percaya cinta, tapi aku percaya rasa sayang yang tulus" hujah seorang ucok dihadapan sahabatnya yang tak tau arti dari sayang. Aku selalu ingat. Tapi entah kau.

Tanpa diminta Ucok menceritakan pandangan pertamanya. Aku ingat sedikit jalan-jalan di kota ini, yang basah setelah hujan. Tentang awal tinggal dirimu di sebuah Perumdos ITS.  Bukankah kawanku yang menghantarkanmu? Tentu kau masih ingat padanya. Tapi kau bilang kau bosan, kau tak suka, kau tak suka dilarang bermain di loteng. Tentu aku ingat kau suka bermain di Loteng. (Ah aku tak pernah tahu sedalam apa hubunganmu dengan gravitasi). Kau selalu suka tempat tinggi. Aku membutuhkanmu. Aku butuh perempuan tangkas yang tak bisa diam, yang tak peduli kulit hitam karena berjalan panas. Perempuan yang memaksaku mengantri nonton laskar pelangi dan menangis menghukat nasib Lintang yang suram, perempuan yang teguh bilang Kerispatih itu keren meski kau tau aku jelas-jelas memandang mereka najis haram, Perempuan yang menolak patriarki tetapi begitu senewen minta di manjakan.
Itu kamu, yang membuat saya luluh. Kemudian kita saling menyapa, meski mungkin hanya lewat teks. Karena kamu tahu? Aku tak punya nyali, hanya omong besar, namun tak pernah ada keberanian bertegur kata. 

Tetapi aku tak pernah lupa detik, gestur, ekpresi, suara, lekuk, gerak dan moment saat kau menyapa dengan khas. Kau sebut namaku dengan imbuhan “Mas”, maka terkutuklah Nietsche yang membunuh tuhan. Karena ia tak pernah melihat momen ini sebagai hal paling kudus dalam hidup. Ia dengan kata sederhana meruntuhkan menara Babilon dalam diriku, memporak-porandakan peradaban patriarki ala Sparta. Hingga aku lengser di ujung rupa penjelmaan si pendobrak Artemis yang menitis dalam dirimu. Aku mabuk, orgasmus dan menggelepar dalam trance tak berucap. Lalu jatuh sayang kepadamu adalah tindakan wajib dan tak membutuhkan sikap aposteriori. Tidak perlu Kant untuk membuktikannya. Karena itu wajib dan semua yang wajib hukumnya Fardhu! Itu bukan monopoli titah wahabi tapi semua umat yang pake embel-embel agama di KTP nya. Dan di ujung hari aku bertakbir Amor Platonicus!

Aku rindu kau dalam banyak bahasa. Ya aku kemudian berani untuk mengambil resiko jatuh sayang padamu. Ya serupa nyali Perseus yang memusnahkan Kraken, aku putuskan untuk mengenalmu, mengejarmu, dan berusaha memilikimu. Aih? Tidak, kau bukan untuk dimiliki, kau bukan benda, kau lebih luhur dari padan kata surga dan suci sekaligus. Meraih ya meraih, sehingga keberadaanku kau akui, aku akan meraih predikat itu. Aku mulai berani bertukar sapa dalam jejaring provider seluler. Karena menatapmu langsung akan membuatku ringkih, lemah dan tak berdaya. Sedikit demi sedikit aku membangun sedimen keberanian untuk bertemu denganmu, mengajakmu makan di kaki lima tanpa takut diare atau hepatitis,(ini pun dalam tahap angan). Aku selalu kagum atas sikapmu yang tak ambil pusing. Itulah kamu, tidak perlu rapal mantra aji jaran goyang atau puji laku pengasihan. Hatiku ini rontok untukmu! Sedikit demi sedikit dalam diri ini terpatri sebuah sarkofagus, dengan ikrar. Hingga pada batas masa penciptaan yang diakhiri 4 penunggang kuda, aku tak akan menyesali keputusan ini. Keputusan untuk jatuh sayang, meski akhirnya sangat perih.

Selesai bertutur, Ucok melengos, mengharap tanggapan Michael. Naas.

"Jancoook kamu Ton, aku cerita kamu tinggal tidur, Asuuu" maki khas anak surabaya.
 
Lirikan maut Ucok


To be continue...




0 comments:

Posting Komentar

sampaikan unek-unekmu....!!!