Photobucket

Jumat

Secangkir Kopi Wedok




"Seperti dikabarkan Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika, intensitas hujan daerah Surabaya akan memasuki babak baru, Hujan yang melanda Surabaya akan meningkat menjadi status siaga satu", status facebook yang lebih mirip berita terucap dibalik muka saintistnya, ia dapat meramalkan cuaca, nasib bumi serta kabar teknologi termutahir abad ini. Seperti hidup yang diawali dari mani dan bertapa dalam rahim. Akhirnya lahirlah pemuda ini. Sebut saja ia Tiltul Ronando, pemuda kinyis-kinyis yang hobi belajar, sudah tampak dari kaca mata yang dikenakan, memegang teguh mitos yang di ucapkan para temanya, mitos yang menganggap suatu saat akan menjadi profesor di kampus tenama. 

Ia menyukai mistik, saat dibuka wajah aslinya akan tampak sendiri dengan mulut mangap dan kepala mengadah ke atas langit. Tangannya terlipat didada, matanya tertutup, mukanya kumuh, pakaiannya compang-camping, badannya bau. Pokoknya Tiltul sudah sah seperti para penganut ilmu hitam di film-film sinetron indosiar jaman dulu, untung ia masih memandang kehidupan urban yang modern, baginya citra terkait media komunikasi atas suatu kelas sosial. Citra membentuk penggunanya untuk tetap berada dalam kelompok sosialnya. Mempertahankan eksistensi dan menyampaikan sebuah pengakuan atas identitas diri, walhasil wajah aslinya  akan tampak saat ia habis menonton Dua Dunia dan mintalah ia untuk bercerita


Tiltul melangkah saat langit sedang sibuk menyambut datangnya senja, dibumi, dibawahnya. Ada sebuah bangku taman yang paling ramai di kunjungi para penikmat obrolan santai. Taman  paling prestisius yang ada di kampusnya. Karena hanya taman itu, aliran sungai kecil berada. Suasana lalu lalang para penggunna motor tersingkap luas, letaknya disamping parkiran membuat taman ramai dilalui kaki manusia. Di bangku taman itu tampak beberapa mahasiswa dan seorang mahasiswa yang menjadi perhatiannya, duduk, kepalanya mendongak menantang langit. Sendiri, ditengah buas ramai taman yang tak pernah sepi. Tanpa dikomando, Titul menyergap pemuda yang sedari tadi melongoh. 
          “heh minggir! Petugas mau lewat” kata pria saintist itu. 

          “Eh enak saja! Antri dong emang kamu pikir aku gak ngantri pengen duduk”

         “saya ini petugas, kamu mau ditindak karena menghalangi tugas petugas yang sedang mau duduk?” .
Aksi akrab dari seorang Tiltul saat menjahili para mahasiswa. 

     “heh Sodara! Ayo bangun berhenti melongo, yang anda lakukan ini adalah pelanggaran hukum berat. Semacam penistaan hidup” kata pria saintis meniru gaya dosen yang selalu memanggil nama mahasiswanya dengan 'sodara' sambil mengacungkan jari telunjuk, mirip Bung Tomo saat memompa semangat arek-arek Suroboyo.

      “apanya yang melanggar pak?” kata seorang mahasiswa melongoh.

      “ya ini, mengganggu kenyamanan publik, meresahkan para pemuda, menggunakan fasilitas umum, membuat ikut galau dan sebagainya dan sebagainya” sahut Tiltul itu mantab. 

       “ah bapak lebih mengganggu, lebih meresahkan, seenaknya aja maen usir” jawab sebuah suara.
     “heh siapa itu? Hayoh maju! Ini pencemaran nama baik petugas! Biar jelek-jelek gini saya gak punya rekening gendut! Saya gak bisa disuap untuk jalan-jalan ke akherat! Saya ini petugas kegalauan! Jangan maen slonong boy gitu kalok bicara. Sontoloyo!” teriak Tiltul dengan senyum nyengirnya. Tak hayal para mahasiswa kabur semraut, kini kediktaraon gurauan Tiltul berujung manis.

Ia menyendiri, segera memberi tanda akan tempat duduk bak sudah di sewa. Sembari mikir masa depannya nanti, banyak hal yang tak bisa ia sepakati dalam hidup. Seolah-olah ia adalah sebuah sekrup yang bekerja mekanis dan sistematis. Robot yang harus tunduk pada perintah-perintah yang bahkan ia sendiri tak bisa mengerti, mesti belajar mengamini kesendirian sebagai seorang karib yang setia. Ahh! manusia selalu lahir dari kesunyian, kesendirian kemudian mati dalam kesendirian. Lantas kelak di akherat, jika percaya, manusia akan menemui sendiri pertanggung jawabannya. Mungkin bisa bertemu dengan Santo Petrus di gerbang surga. Atau barangkali mesti menikmati api penyucian dosa? Entahlah, seperti kata Chairil Anwar, nasib adalah kesunyian masing-masing. Seperti tiba-tiba merindu lantas haru. Semacam kutu kupret yang merusak keadaan, seperti itu kesendirian Tiltul merana, semakin merana tanpa adanya kopi, merana, persis seperti lirik lagu di filem bang haji omah. tanpa R.


Ah! memang tak pernah ada tolak ukur yang jelas bagaimana kita bisa mengenal atau mendefinisikan bahagia. Ia merupakan terma abstrak, cair dan multi interpertasi meski demikian selalu melahirkan pertentangan yang tak jarang malah hanya membawa kemudharatan. Tapi bagi ia ada konsep sederhana bagi bahagia, bahagia adalah orang-orang yang dalam kesendiriannya menyeduh nikmatnya kopi. Tidak ada kopi baginya adalah kehilangan tiada tara, kehilangan yang terlalu prosais untuk bisa diterjemahkan dalam kata-kata. Bukan saja akan hiperbolis namun juga terlalu melankolis. Seolah-olah kehilangan yang ia rasakan adalah yang paling hebat, yang paling puncak sehingga penderitaan lain menjadi kurang penting. Atau meminjam bait puisi yang digunakan Chairil Anwar “dan duka maha tuan bertahta”, ia pernah merasakan kehilangan yang semacam itu. Menyedihkan.
Melangkahlah Tiltul ke kantin sebrang taman, Entah apa yang ada dipikirnya, ia menerobos masuk seperti para suporter saat melihat laga akbar Persebaya vs Arema. Jalanan yang dipenuhi oleh ratusan ribu orang. Yang panjang melingkar seperti antrean tiket sepak bola. Ia terus melaju melalui jalan sempit itu. Setelah akhirnya sampai di tepat muka ibu penjaga kantin yang sebenarnya tidak terlalu jauh. 

         "Buk, pesan secangkir kopi wedok" tegas Tiltul.

Ibu itu hanya melongoh, tak tau apa yang dipesan pelanggannya. Mungkin dalam hati ibu ini hanya mengutuk sambil mengelus dada     
       "Duh gusti, mimpi apa aku semalam, sampai bertemu pelanggan seperti ini"

Si ibu lantas menengok ke belakang. Mencoba meraba-raba dan memahami apa yang salah di masa lalu, ia hanya menemukan sederet peristiwa yang membuat kekosongan itu semakin menganga. Lubang itu membesar seiring ingatan yang ia gali dari keberadaan yang dulu. Mengabsen satu persatu pesan singkat memori otaknya
 “Oh ya, semalam aku mimpi menyisir rambut tumo, Pantes ketemu pelanggan aneh". celetuknya

Sekali lagi Titul berucap
        "Buk, pesan secangkir kopi wedok"


Terjerembab dalam ketidatahuan itulah apa yang dirasa si ibu. Ibu memasrah dengan kejengkelannya, menahannya dan membiarkan jengkel terpenjara terganti anggukan ritmis serta senyum khas
"Maaf nak, gak punya kopi wedok"

"Lhoo, masak gak punya buk?"
"Bener nak, adanya kopi hitam, kopi jahe, kopi luwak, kopi trenggileng, kopi badak, kopi areng, dan kopi susu"
"Nah itu buk, yang disebut terakhir, pesen secangkir ya buk"

Tertegun, semacam nasib sial yang datang tiba-tiba, seperti yang dikatakan RA Kartini "Dalam diam hati wanita mengutuk-kutuk perilaku lelaki yang demikian". Si ibu hanya bisa melengos samar-samar berucap,

"Dasar, Lelaki Mesum".


Saat sebelum mesum
 To be continue


 

0 comments:

Posting Komentar

sampaikan unek-unekmu....!!!