Photobucket

Jumat

Penilaian

        Satu hal yang paling aku sukai adalah ketika mata ini tidak bisa terpejam saat malam tiba, dengan iringan celotehan suara hujan yang lambat-lambat  suaranya mulai memainkan peran sebagai nada alam.entah kenapa mata ini sulit terpejam,mungkin karena sering “begadang” mengakibatkan mata mulai terbiasa dengan malam .

Hidup ini memang serba – serbi dari sebuah penilaian ,peniaian akan tingkah laku,konsep pemikiran bahkan sampai gaya hidup.aku sempat menempati status”the high valuer”.ketika sesuatu itu tidak berkenan dengan apa yang ada dimemori otakku,secara reflek aku akan selalu menjadi “garda terdepan “ dalam sebuah penilaian.sekilas tampak keren memang.tapi setelah umurku semakian hari semakin menampakkan batang tuanya,aku mulai “sedikit” sadar bahwa sebetulnya aku tidak pantas untuk menilai.mungkin karena terbawa alur konsep “semar” dan “sabda palon” yang relatif lebih bijak dalam sebuah penilaianaku menjadi seperti ini,semar dengan segala kearifannya dan kejenakaannya bisa membuat suasana lebih hidup dan jauh dari unsur ketegangan.sabda palon dengan segala peran strategisnya sebagai dalang, dalam setiap keputusan para raja selalu menyukai malam dan bersahabat dengan sepi untuk menghilangkan jejak – jejaknya sebagai “problem solver” dalam sebuah kerajaan.

Semar.ya sosok yang selalu menjadi idolaku,setiap aku membaca buku akan terasa kurang “bumbu” jika buku itu tidak  menampilkan sosok semar dalam isinya.meskipun tidak semua buku bisa digenalisir seperti itu tapi setidaknya sebuah buku yang pas “menurutku” harus menampilakan sosok sisi heroik dari sebuah peran buku,baik itu konsep pemikiran bahkan ke perawakan sekaigus.

Aku jadi teringat tentang sosok “Zoroaster”.sosok pendeta yang hidup dimasa bangsa aria (kehidupan abad ke 16 SM).dia salah satu pendeta yang mulai menampakkan “kemuakannya”, dikala suku barbar luar stepa huniannya mulai memasang aksi teror walaupun masih tergolong teror “ringan”.tetapi zoroaster memulai kemuakannya dengan sebuah  penilaian  untuk bangsa barbar.dia sadar,pendeta adalah simbol petunjuk tuhan yang terimplimentasikan kedalam wadah manusia,dan harus bertindak dan bersuara atas nama kebaikan dan keadilan.penilaian akan siapa dibalik susku barabar itulah yang memaksa otak zoroaster untuk menemukan Tuhan .Tuhan pun beragam dengan segala kisah heroiknya dalam menciptakan dan mengatur bumi,beruntung zoroaster saat itu telah menemukan esensi dari tuhan,terlepas dari “benar atau tidaknya”.sampai dengan pucuk kesimpulannya dia menemukan sosok “tuan mazda” yang dianggapnya sebagai Tuhan Yang Maha Agung,seiring perjalanan tentang penilaiannya, dia akhirnya dengan yakin dan bulat menyatakan visi dalam  hidupnya akan tuhannya yang dia sebuat sebagai “Tuan Mazda”,mungkin bagi zoroaster dan pengikutnya,Mazda bukan lagi imanen di jagat raya,tetapi telah menjadi transenden,jenis ketuhanan yang berbeda dari yang lain.dan ini jelas masih belum monoteisme tentang suatu penilaian tentang Tuhan.

Penilaian itulah yang membuat Plato meneruskan konsep pemikiran dari sang gurunya “Socretes” meskipun dalam cara yang berbeda dan penuh dengan gagasan keilmiannya.baik atau buruknya seseorang tidak bisa kita putuskan dengan melihat beberapa jam saja.seorang maling misalnya,kita tahu jika ada kata maling,memori kerja otak kita akan terhubung dengan kata “keburukan” tanpa memandang siapa pelakunya dan bagaimana kesehariannya.kiata tidak tahu apa yang dikerjakan maling setiap hari-harinya,bagaimana mungkin kita bisa menilai maling itu sosok yang buruk hanya karena 5 menit kita mengetahui aktifitasnya.aku tidak mengajari tentang kelemahan dalam “amar ma’ruf nahi munkar”,silahkan kita melakukannya.tapi yang jelas sebelum kita melakukan penilaian, sebaiknya kita harus kenal betul siapa dan siapa yang sedang kita nilai.sebelum mengambil kesimpulan yang berakibat dalam perdebatan dalam sebuah “perbedaan” kita haru kenal dan paham betul apa yang akan kita nilai.bukankah dalam islam juga mengajari istilah “Tabayun” ???.
 

0 comments:

Posting Komentar

sampaikan unek-unekmu....!!!