Photobucket

Kamis

Kutuk Pastu Sang Resi

              Mencari kedalaman makna dalam cerita Mahabharata, memperoleh cinta dan kasih dalam dekapan para pandawa dan kurawa.

Ketika pangeran Duryodana, mbarep dari kurawa. Melihat ayahandanya prabu Destaratra buta matanya memimpin negara Astina timbullah angan-angan menyakitkan dari pikiran Duryodana akan siapa yang akan menggantikan ayahandanya nanti?

Pandawa, nama kelima sepupunya ini selalu menghantui pikiran Duryodana, makan tak enak tidurpun tak nyenyak ketika mendengar nama Pandawa, suasana malam yang hening, alunan semilir angin tak mampu memikat hati Duryodana meraih peraduan tidurnya, larmbaian-lambaian menakutkan Pandawa selalu mengisi setiap detik pikirannya, dia sadar Pandawa adalah pewaris kerajaan Astina yang sah,  prabu Destaratra hanya menggantikan sementara adiknya prabu Pandu, ayahanda Pandawa, yang meninggal akibat kutuk pastu dari seorang resi, Dalam remang-remang malam pikiran Duryodana kembali muncul memori-memori Pandawa yang telah diceritakan uwak Bhisma kepada dirinya.

Dalam runtutan babakan(baca, cerita) Astina, negeri damai aman sentosa diberi nama Astina dengan rajanya bernama Raja Sentanu, sang Prabu memiliki tiga orang putra, Dewabrata, Citranggada dan Wichitawirya. Dewabrata yang saat itu dinobatkan sebagai yuwaraja, putra mahkota, tanpa terduga dan karena alasan suatu hal (nanti akan kucoba ceritakan ditulisan berikutnya) melepaskan jabatannya sebagai yuwaraja dan bersumpah tidak akan menikmati kenikmatan duniawi, bergetarlah mayapada saat Dewabrata mengucap sumpahnya, berguguranlah kembang-kembang harum suci menaburi kepalanya, sementara terdengarlah suara – suara merdu diatas langit melantunkan nama Bhisma…Bhisma…Bhisma ! , Kata Bhisma yang berarti seseorang telah mengucapkan sumpah berat dan suci akan benar-benar melaksanakan sumpahnya.

Dipanggillah Dewabrata saat itu dengan sebutan Bhisma, kini status yuwaraja diberikan pada adiknya, Citranggada. Namun bumi selalu berputar dengan adilnya mengetahui sisi-sisi dibalik masa depannya, saat terjadi perang citranggada tewas melawan gandarwa(bangsa raksasa) tanpa meninggalkan seorang putrapun, Negara harus mempunya seorang pemimpin dalam menjalankannya, diangkatlah adiknya, Wichitrawirya, sebagai yuwaraja menggantikan kakak-kakaknya, Astina bersibak dalam harumnya keadilan, sentosalah bumi Astina saat dipimpin sang raja Wichitrawirya. Mahligai peraduan cinta bersama permaisurinya kini menghasilkan dua orang putra, Destaratra dan Pandu. Destaratra yang nanti memiliki seratu putra Kurawa dan Pandu yang nanti memilik lima putra Pandawa. Namun Dewata berkata lain, Destaratra dilahirkan dalam keadaan buta, tak mungkin seorang raja memimpin Astina dalam keadaan tak bisa melihat, diangkatlah adiknya, Pandu, sebagai puta mahkota menggantikan kakaknya Destaratra.

Bijaksana dan berwibawa prabu Pandu saat memimpin Astina, bergeminglah negera-negara tetangga saat mendengar nama raja Pandu, kesaktiannya menjadi benteng kokoh dalam mengamankan Astina, Dewi Kunti takluk luluh lantah oleh wibawa raja Pandu, begitupula dengan Dewi Madrim luluh dengan kebijaksanaan raja Pandu, kini tiada hati sebahagia Prabu Pandu yang beristrikan wanita-wanita luhur dan cantik jelita seperti Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Berangkatlah berburu di Hutan prabu Pandu dan para punggawa istana sebagai olah melatih ketangkasan diri, Hutan sebagai peraduan tenang dalam bersemedi bagi para resi, membuat asyik resi dan istrinya bersenggama dengan menyamar sebagai sepasang kijang, terlihatlah sepasang kijang didepan mata Pandu, dia tak menyankah jika sepasang kijang itu adalah jelmaan resi dan istrinya, Dia mengangkat panahnya, membidik dan meluncurlah busur panahnya..cruuut..tepat mengenai dada si kijang jantan. Kijang itu jatuh terguling-guling, luka berdarah-darah, dalam keadaan sekarat kijang jantan itu merubah kembali wujudnya menjadi resi dan mengucapkan kutuk pastu kepada Pandu,  “Hai lelaki penuh dosa, rasakan kutukanku, engkau akan menemui ajalmu sesaat setelah engkau menikmati olah asamara dengan istrimu” setelah mengucap kutuknya, berhembuslah napas terakhir sang resi, matilah resi itu seketika.

Sungguh kaget Pandu mendengar kutukan Sang resi, dengan perasaan putus asa memikirkan apa yang terjadi kedepannya Pandu akhirnya mengundurkan diri dari Astina dan menyerahkan tampuk pimpinan Astina kepada Bhisma, saudara tertuanya. Pergilah Pandu dan kedua istrinya menuju hutan untuk bersemedi dan menyucikan diri dengan tapa brata, Dewi Kunti yang melihat hati suaminya bersedih melihat keinginan Pandu mempunyai keturunan namun tak kuasa melakukannya karena kutuk yang diterima, dia teringat akan mantra yang diberikan resi untuk memanggil Dewa, diberitahukanlah mantra itu kepada Pandu dan Dewi Madrim, Pandu yang tak kuasa menerima kesedihan akibat Astina yang ditinggalkannya menyuruh Kunti mengucap mantra itu agar memperoleh keturunan dari sang Dewa dan mengajarkannya kepada Dewi Madrim, dalam remang-remang cahaya turunlah para Dewa mengabulkan apa yang diinginkan Pandu dalam pikirannya,memperoleh keturunan dari kedua istrinya. Pandu merasa bahagia memiliki lima keturunan yang diberi julukan Pandawa.

Putra mbarep Dewi Kunti diberi nama Yudhistira, titisan Batara Dharma. Dewa keadilan dan kematian yang disegani karena keteguhan hatinya dalam memegang dharma.

Putra kedua Dewi Kunti diberi nama Bratasena atau lebih dikenal dengan Bima, titisan Batara Bayu, dewa Angin. Saudara kandung Anoman ini mempunyai kekuatan yang luar biasa, dia disegani sebagai orang yang pemberani dan berperilaku kasar tetapi berhati lurus dan jujur.

Putra ketiga Dewi Kunti diberi nama Arjuna, titisan Batara Indra, Arjuna yang berarti “cemerlang”, putih bersih disegani sebagai orang yang lembut hatinya, pemberani, dermawan dan berwatak kesatria dalam membela kebajikan.

Putra kembar Dewi Madrim diberi nama Nakula dan Shadewa, titisan putra Batara Surya, mereka disegani sebagai lambang kepatuhan dan persahabatannya yang kekal.

Tahun berganti tahun, Pandu dan Madrim duduk termangu mimikrkan kutukan yang membuat mereka sengsara, apala arti dari sebuah pernikahan jika tak dapat menikmati asmara cinta dalam dekapan tubuh sepasang suami-istri padahal suasana hutan sedang memakai busana terindah, bunga-bunga bermekaran menebarkan harum yang semerbak, burung-burung bekicau riang dan aneka margasatwa bercengkrama memuaskan nafsu birahi dalam udara musim yang begittu segar. Terlepaslah asmara yang terpendam sekian lama itu, pandu sejenak terlupa kutuk yang diterima, didekaplah madrim dengan penuh cinta, seketika itu terkaparlah Pandu dengan hembusan napas terakhirnya, kini terbukti sudah kesaktian dari kutuk pastu sang resi, madrim yang merasa bersalah karena membiarkan Pandu mencumbuinya, menyusul suaminya Pandu dengan terjun di api pembakaran jenazah Pandu.

Diasulah kelima putra Pandu dibawah dekapan kasih sayang seorang ibu, Dewi Kunti, tidak adanya Pandu membuat galau hati Kunti, dengan lamat-lamat berpikir, akhirnya Dewi Kunti memutuskan kembali ke Astina dan membesarkan Pandawa disana.

Buyar sudah renungan malam pikiran Duryodana, suara gaduh disekitar peraduan tidurnya membuat hati Duryodana kesal dan marah, diambillah senjata gadah miliknya, sambil menengok kearah gaduhnya cekik-cekikannya manusia, mengakiri kekesalannya itu, mulut Duryodanapun mengumpat serapah . Setan alas…kempret.. Djancok kowe kabeh, suara kalian mengganggu ketenangan malamku, dihajarlah satu persatu menusia cekikikan itu yang tak lain adalah saudaranya sendiri Kurawa.

“Ampun kakang…Ampun kakang..Ampun kakang “ suaranya memelas merintih kesakitan akibat gadah Duryodana yang jatuh tepat mengenai pangkal paha kanannya.
“ Sudah nak mas, mereka ini saudaramu, begitu teganya nak mas menyakiti saudara kandung sendiri “ suara lugas dan tegas terucap dari mulut seorang setengah tua yang bernama Arya Sengkuni.
“Grrr…Grrrr..Grrrr” suara redaman Duryodana yang tampak seperti raksasa melegahkan hati para suadaranya,

Bertambah kesedihan hati Duryodana melihat tingkah laku adik-adiknya, tidak mungkin mereka bisa mengalahkan Pandawa jika masih begejesan seperti itu, masuklah keperaduan tidurnya ditemani langkah pamannya Sengkuni.
“Nak mas, paman tau apa yang menjadi kegundahanmu selama ini, paman tau kau memikirkan Pandawa, ketahuilah nak mas, paman punya cara bagaimana harus melenyapkan kelima putra Pandu itu “.
“Benarkah paman??? Oh paman Sengkuni, hanya paman yang benar-benar memahamiku, ceritakanlah paman bagaimana caranya” lantunan suara bahagia Duryodana yang bahagia sebagaimana bahagianya orang memenangkan taruhan togel.

Begini nak mas, sebelum paman cerita, aku harap nak mas paham betapa lelahnya yang menulis tulisan ini, kasihan dia, biarkanlah dia istirahat dulu diperaduannya, biar besok –besok kita bahas lagi caranya melenyapkan Pandawa.
“ Oh ngono paman, yow wes nak ngono, lereni kek cok tulisanem iki. Wes sesok-sesok ae terusno. Wes ndang istiraht, ngopi-ngopi kek konoloh,opo ndelok pilek kek karo leyeh-leyeh” Nasehat Duryodana kepada penulis..ahahaha.
 

6 comments:

dodi mengatakan...

lumyn nambah2 reprensi sejarah ms
thanx

lontrek mengatakan...

refernsinya dari mn mas?
t'kira pandwa anakx dewikunti smw,hehe

wayan mengatakan...

iki wyang versi sby yo ms,isine janck2an.hahahahaha

nadia mengatakan...

nIce ShhaReeee mas :x

eni mengatakan...

arep ddi dalang yo kak? :))

kampongbulu mengatakan...

ahahaha,,, thanks kawan sudah mampir baca, baru belajar menggunakan dialektika surabaya dalam tulisan, maklum surabaya tanpa disertai jancok tak bermakna..wkwkwkwkwkwkwkwkw

Salam damai buat kalian semua

Posting Komentar

sampaikan unek-unekmu....!!!